Respons Lambat Pemerintah Desa Cadaskertajaya: Sawah Kering, Petani Rugi

0
667
Saepul Bahri saat menunjukkan aliran air yang kering.

Kekeringan sawah menjadi persoalan utama bagi petani Kabupaten Karawang, apalagi ketika musim kemarau seperti saat ini. Tanpa adanya air, petani tidak bisa menjalankan proses tanam padi dengan baik. Dengan begitu petani perlu mencari cara agar sawahnya tetap terisi air, seperti misalnya dengan memompa air dari irigasi.

Seperti yang terjadi di Desa Cadaskertajaya, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang yang sedang mengalami kekeringan air. Kekeringan yang terjadi pada desa tersebut sudah berlangsung sejak dua musim panen yang berarti kurang lebih selama dua tahun. Hal tersebut membuat hasil panen sawahnya tidak maksimal.

Bukan hanya disebabkan oleh musim kemarau, kekeringan air di desa Cadaskertajaya tersebut diduga terjadi karena pintu irigasi yang sering ditutup oleh pemancingan di sebelahnya. Seperti yang dikatakan oleh salah satu petani, Saepul Bahri. Pemancingan yang berada tepat di samping irigasi tersebut sering menutup aliran air. Sebab jika aliran dibuka oleh petani untuk kebutuhan sawah, empang di pemancingan tersebut penuh oleh air.

“Ketika petani buka pintu air, saluran di tersier itu gede airnya, masuk ke empang,” ujar Saepul.

Pemancingan tersebut mengambil air dari aliran tersier lalu kemudian dibuang ke aliran sekunder. Sehingga air terbuang dan tidak bisa mengairi area pesawahan yang kering. Aliran tersier dibuat menjadi aliran pesawahan terdekat, aliran sekunder untuk mengairi aliran yang lebih jauh lagi.

Sehingga Saepul dan beberapa petani di wilayahnya harus memompa air dari aliran sekunder dengan menggunakan mesin yang ia buat sendiri. Hal tersebut jelas merugikan petani, sebab perlu ada biaya tambahan seperti pembelian bahan bakar, perawatan, dan yang jelas mesin yang harus ia rakit di bengkel dengan harga yang cukup mahal.

Saepul sendiri menghabiskan biaya sebesar Rp 50.000 untuk pembelian bahan bakar untuk mengisi air di sawah seluas 5.000 meter dalam seminggu sekali. Sementara biaya itu harus terus ia keluarkan hingga dua bulan mendatang menunggu waktu panen.

Permasalahan lainnya, pemancingan itu didirikan di tanah perairan yang seharusnya tidak berdiri bangunan apapun. Alih fungsi tanah pengairan menjadi pemancingan itu selain melanggar peraturan, bisnis tersebut juga merugikan petani. Sampai saat ini belum ada itikad baik dari Perusahaan Jasa Tirta (PJT) dan kelurahan untuk menegur pemilik pemancingan.

Pemerintahan Desa Cadaskertajaya mendirikan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk menyelesaikan permasalahan kekeringan di daerah tersebut. Syamsudin selaku ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menjelaskan legalitas akta notarisnya kolektif dan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sedang dibentuk. Sehingga ketika ada oknum yang membuka atau menutup pintu air bisa dikenakan denda seperti ada pasal AD/ART tersebut.

“Jadi ketika nanti ada oknum yg menutup air ketika petani butuh air dikenakan denda,” jelas Syamsudin.

Syamsudin menunjuk aliran hulu air.

Namun menurut Saepul, pembentukan P3A itu cenderung tidak sesuai aturan, sebab penunjukan pengurus tidak berdasarkan kemampuan dan tidak melibatkan petani secara keseluruhan. Pengurus P3A yang ditunjuk langsung oleh kepala desa ini bukan petani sehingga tidak mengerti keadaan sawah.

“Kalau menurut saya, penunjukan pengurus P3A ini masih asal-asalan, tidak serius,” tegas Saepul.

Sependapat dengan Saepul, petani lain, Syamsudin juga mengatakan bahwa pengurus P3A itu harus dipegang oleh petani. Sebab yang tahu dan mengerti kebutuhan di lapangan adalah petani. Ia menekankan jangan sampai pembentukan lembaga ini tidak berjalan, sehingga petani tidak terpenuhi keinginnanya.

“Betul, di situ berarti benar-benar yang mengelolanya yang membutuhkan,” lanjut Syamsudin.

Bahkan sebelumnya Syamsudin sudah mencoba berbicara dengan kepala desa terkait penunjukan pengurus P3A ini. Ia mengingatkan kepala desa agar tidak sembarang dalam menunjuk pengurus, sebab petani benar-benar membutuhkan pengairan, terutama yang berada di hilir. Namun justru kepala desa malah menunjuk pengurus P3A ini yang bukan berasal dari petani.

“Baru satu bulan lembaga ini terbentuk, malah terjadi kekeringan, solusinya seperti apa?” jelasnya.

Pasalnya, dalam waktu ke depan ini aliran tersier akan dipegang penuh oleh petani. Sehingga pembentukan lembaga P3A ini yang akan memegang penuh aliran tersebut, bukan lagi PJT. Dengan begitu, segala kebutuhan petani dalam bidang pengairan menjadi tanggung jawab lembaga tersebut.

Ia dipanggil abah. Sejak kemarin mencari air untuk mengairi sawahnya.

Petani Kaya Serakah
Kekeringan sawah di desa Cadaskertajaya bukan hanya bertumpu pada pemancingan saja, namun juga ada beberapa petani di hulu yang serakah dalam penggunaan air. Hal tersebut membuat debit air di hilir menjadi kecil. Sebab kubik air yang diambil oleh petani di hulu ini sangat besar.

Seperti yang dikatakan oleh Saepul, bahwa beberapa petani di hulu itu menguasai air, sehingga air ke hilir menjadi sedikit. Sempat ada komunikasi dengan pihak desa terkait permasalahan tersebut, pasalnya jika ini terus terjadi, petani di hilir akan terus kekurangan air. Saepul merasa perlu ada pemerataan pendapatan air, sehingga tidak terjadi ketimpangan.

Sampai sekarang belum ada tindakan atau teguran yang dilakukan oleh aparatur desa pada petani serakah ini. Pasalnya, Saepul merasa dirugikan dengan sikap keserakahan petani di hulu dalam mengambil air.

“Jelas saya dirugikan,” ujarnya.

Petani Ingin Merata
Masalah kekeringan sawah sudah menjadi masalah yang cukup lama bagi petani Desa Cadaskertajaya. Tidak pernah ada solusi yang diberikan oleh pemerintah Desa Cadaskertajaya yang membuat petani sejahtera. Sehingga petani selalu menjadi merasa dirugikan.

Saepul sendiri berharap agar masalah kekeringan ini segera terselesaikan. Menurut ceritanya, sempat ada kejadian permasalahan sesama petani terkait perebutan air. Ia tidak ingin kejadian seperti itu terjadi kembali.

“Entah nanti per jam atau gimana pembagian airnya, yang penting merata semua,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here