Pilkada 2024: Push Rank, Berebut Suara Anak Muda

0
173
Dear bapak/ibu kandidat Bupati Karawang, kalau mau ngajak mabar, ke sini ya.

Ketua KPU RI Ilham Saputra mengumumkan rencana persiapan dan tahapan pemilu serentak yang akan dilaksanakan tahun 2024 mendatang. Meski dilaksanakan pada 2024, tahapan pemilu dimulai sejak 25 bulan sebelum pemungutan suara, atau jatuh pada Januari 2022. KPU RI bahkan sudah menyiapkan rancangan peraturan KPU tentang tahapan, program, dan jadwal sebelum tahapan pertama bergulir pada Januari 2022 mendatang.

Agenda tahapan di tahun 2022 benar-benar padat. Pada April 2022, tahapan pendaftaran dan verifikasi partai politik sudah dimulai. Di tahun yang sama, KPU harus sudah selesai melakukan rekrutmen panitia pemilihan dari tingkat kecamatan (PPK) sampai ke tingkat panitia pemungutan suara di TPS (PPS).

Pada 2023, tahapan pendaftaran dibuka. Dimulai dari pendaftaran calon presiden, calon legislatif, sampai para calon bupati/walikota. Pada Februari 2024, tahapan pemungutan suara dimulai.

Meski begitu, jadwal tahapan pemilu serentak masih harus menunggu izin DPR RI melalui pengesahan PKPU (Peraturan Komisi Pemilihan Umum).

Pengumuman dari KPU pusat bergema sampai ke tingkat daerah. Partai dan calon kandidat mulai pemanasan, termasuk di Kabupaten Karawang. Mesin politik memang belum dipanaskan, tapi manuver-manuver “tes ombak” sudah dilakukan. Opini dibangun, dibentuk, dan dibantah untuk mengukur kedalaman kekuatan para kandidat. Keduanya mengerucut pada derbi unggulan: Aep Syaepuloh dan Aceh Jamhuri (Ajam).

El Clasico Aep-Ajam ibarat duel RRQ dan Evos di kompetisi e-Sport Mobile Legend. Tiap kali dua tim ini bertemu di MPL (Mobile Legend Professional League) Indonesia, laga keduanya selalu tembus rekor viewers. Panas dan sengit. Keduanya tidak mungkin mendapat role fighter yang memerlukan kemampuan adu mekanik. Mereka masih hijau di politik. Sementara fighter harus pandai dogde serangan lawan, terbiasa outplay, menghitung damage yang masuk, dan memahami makromikro permainan.

Aep Syaepuloh bermain di jungle lane, hero yang paling kaya dalam tim. Dalam LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) per 7 September 2020, Aep melaporkan harta miliknya senilai Rp391 miliar. Dengan gold-nya, seorang jungler harus membeli item lebih cepat dari lawan-lawannya. Jungler biasanya diisi assassin. Role yang memungkinkan seorang jungler menundukkan lawan-lawannya dengan cepat.

Sedangkan Ajam berada di posisi side lane. Seorang marksman. Di awal permainan, ia bisa dengan mudah ditumbangkan jungler karena kalah gold dan item. Dalam LHKPN terbarunya, kekayaan Ajam mencapai Rp21 miliar per 26 Januari 2021. Tapi selalu ada momen comeback. Kalau bisa mengatur tempo permainan, Ajam bisa perlahan menumpuk exp dan gold untuk menumbangkan lawan di akhir permainan.

Saat permainan dimulai, keduanya selisih satu level dan beberapa item. Aep diuntungkan karena posisinya sebagai jungle. Ia seorang wakil bupati aktif, dan punya banyak gold alias lebih kaya dari Ajam. sedangkan Ajam seorang Sekda, kalah gold, ketinggalan exp. Tapi sekali lagi, selalu ada momen comeback.

Atau bila ditarik ke ranah PUBG Mobile, squad Aep dan Ajam ibarat terjun di kota Pochinki map Erangel. Langsung baku tembak begitu mendarat. Bedanya, Aep memegang senapan M416 dengan equipment lengkap. Sedangkan Ajam menggenggam UZI. Kelas dua senjata ini jelas beda jauh. M416 adalah senapan serbu yang banyak diincar pemain karena kompatibilitasnya. Senjata ini dipakai pada jarak serangan apa pun. Dekat, sedang, jauh. Sedangkan UZI hanya dipakai untuk serangan dekat. Rarity kemunculan M416 lebih tinggi dari UZI. Namun sekali lagi, Ajam bisa menang asalkan piawai menarik squad Aep ke dalam jarak serangan UZI-nya. Kalau yang terjadi sebaliknya, squad Ajam akan dipulangkan ke lobi dengan status too soon. Rata alias wiped out.

Kami mengibaratkan kontestasi politik dengan kompetisi e-Sport karena dua kandidat terkuat di Pilkada 2024 mendatang harus berebut suara anak muda. Suara kaum kami yang sebagian besar menggandrungi e-Sport.

Bapak/ibu calon bupati jangan takut turun rank kalau mabar sama kami. Win rate kami lumayan lho, bisa kok buat gendong bapak/ibu.

Pada Pilkada 2020 Kabupaten Karawang kemarin, anak muda mendominasi DPT (daftar pemilih tetap) berdasarkan klasifikasi usia. Pemilih berusia 21 sampai 30 tahun duduk di peringkat pertama dengan jumlah 392.266 orang. Posisi kedua diduduki pemilih berusia 31 sampai 40 tahun dengan angka 378.040 orang. Sedangkan peringkat tiga diisi pemilih berusia 41 sampai 50 tahun dengan jumlah 350.992 orang. Posisi keempat usia 51 sampai 60 dengan jumlah 235.928. Posisi kelima usia 61 sampai 70 dengan jumlah 119.613. Posisi keenam diisi usia 17 sampai 20 tahun dengan jumlah 114.457 orang. Dan posisi ketujuh diisi usia 70 tahun ke atas dengan jumlah 52.194 orang. Sebagai perbandingan, pasangan Cellica-Aep memenangkan Pilkada dengan raihan 678.871 suara.

Anak muda diincar karena secara ideologis dan politik, mereka masih gamang menentukan keberpihakan. Beda dengan usia dewasa, anak-anak muda biasanya berada di posisi swing voter.

BPS (Badan Pusat Statistik) memaparkan klasifikasi usia pemilih Karawang dengan gamblang.

Dalam sensus penduduk Karawang yang dilakukan per tahun 2020, klasifikasi usia milenial menempati urutan teratas terbanyak dengan jumlah 27,34 persen dari total 2,44 juta jiwa penduduk. Milenial lahir dari tahun 1981 sampai 1996, dengan perkiraan usia saat sensus berada di kisaran 24 sampai 39 tahun. Generasi milenial tidak terpapar teknologi sejak lahir. Mereka baru terpapar teknologi saat menginjak usia remaja atau sekitar tahun 2000-an ketika ponsel dan internet booming.

Generasi Z menempati urutan kedua dengan jumlah 27,15 persen dari total 2,44 juta jiwa penduduk. Anak-anak Z lahir pada periode 1997 sampai 2012. Mereka tidak tumbuh di masa Presiden Soeharto berkuasa. Mereka adalah anak-anak yang terpapar teknologi sejak kecil.

Mau ajak main by one? Boleh.

Lalu urutan ketiga ada generasi X dengan jumlah 22,50 persen dari total 2,44 juta jiwa penduduk. Mereka lahir antara tahun 1965 sampai 1980 dengan perkiraan usia saat ini 40 sampai 55 tahun.

Banyaknya anak muda yang sudah mengantongi hak politik tentu tidak terlepas dari fenomena bonus demografi Indonesia yang jatuh pada 2030 mendatang. Diprediksi, di tahun itu, jumlah tenaga produktif Indonesia alias anak-anak muda mengalahkan jumlah usia non produktif. Menurut para ahli, ledakan penduduk usia produktif itu sudah dimulai sejak 2020 dan memuncak pada 2030 mendatang.

Pendekatan ke anak-anak muda agar mau memilih, tentu berbeda dengan pendekatan ke generasi di atasnya. Anak-anak muda tidak tertarik pada janji infrastruktur, aneka macam bantuan, dan omong kosong lain. Di sisi lain, mereka bukannya tidak butuh bantuan dan infrastruktur. Mereka perlu “dirayu” dengan cara lain. Salah satunya lewat game.

Di edisi kali kali ini, redaksi akan mengulas para kontestan Pilkada Karawang, mengukur kans kemenangan mereka, mengintip jaringan oligarki di belakang mereka, dan mencari tahu cara mereka menarik dukungan, terutama dukungan dari anak muda. Edisi #PilkadaKarawang2024 tidak hanya membicarakan popularitas, elektabilitas, dan isi tas. Tapi hal-hal lain di luar itu yang luput.

Tentu redaksi menunggu undangan mabar dari para calon bupati. Wahai kandidat bupati, mari kita push rank!

#EditorialKopiPagi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here