Mengikat Pinggang, Siasat Kuat Membohongi Diri

0
266
Ilustrasi

“Yan, pokoknya lu harus ngerasain miskin ekstrem,” kata Pimred, hampir jam satu siang Senin lalu, tak lama setelah saya menerima amplop berisi upah bekerja. Seolah-olah saya ini tak boleh bernapas lega sebentar dan sekadar merayakan kalau saya punya uang. Padahal saat amplop itu baru saya terima, cuma satu porsi nasi bebek yang terpikirkan untuk makan siang. Tidak pernah terbayang kalau saya harus bisa bekerja, makan, minum, bertahan, dan sekaligus mengirit-ngirit uang dua belas ribu sampai hari Selasa berakhir.

Saya mengira itu hanya basa-basi. Memang waktu itu kan baik saya, Pimred, maupun tulisan-tulisan lain di media sosial dan status rekan-rekan saya banyak membahas soal kemiskinan ekstrem. Sedikitnya, hemat saya menyimpulkan maksud ucapan Pimred itu ia ingin menyapa saya saja.

“Oke,” kata saya, singkat. Saya yakin itu bentuk lain sapaan dari Pimred, tapi ia memutarkan badan dan meminta rekan saya yang lain untuk menyita ponsel dan dompet. Rekan saya yang ini juga menyita rokok saya, kunci motor, bahkan amplop berisi upah saya bekerja yang belum satu jam ada dalam tas saya. Saat itu pikiran saya menjadi agak sedikit was-was, selain belum makan, tentu semua itu berat.

Kalau saja ungkapan itu diterima setelah makan siang, rasa benci kepada nasib mungkin akan sedikit berkurang. Sebab selain memang saya ini miskin, toh sehari-hari biasa makan terlambat. Kalau-kalau asam di lambung ini membuat masalah pun sebetulnya salah diri sendiri. Kan tak mungkin rasa lapar itu akibat orang lain. Karenanya baik pusing ataupun muntah, orang-orang yang mengencangkan ikat pinggang hingga lapar tak begitu terasa seperti saya ini tak punya banyak pilihan.

Maka berakhir jugalah hiburan yang saat itu saya miliki, mendengarkan lagu dari YouTube. Padahal waktu itu saya sedang mendengarkan lagu-lagu dari band favorit saya, Koil. Sebelumnya saya memutar “Semoga Kau Sembuh Part 2”, “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”, “Aku Rindu”, lantas berganti secara otomatis ke “Aku Lupa Aku Luka” tak lama sebelum Pimred tiba. Sulit membayangkan apa yang membuat saya terhibur dalam menjalani hari atau menghadapi dunia harus direbut juga secara paksa oleh orang yang saya percayai. Padahal Otong Koil sedang menyanyi di telinga, “Luka, luka, luka, luka, aku lupa luka, luka, luka, luka” begitu katanya.

Seandainya saja saat itu saya masih punya waktu lebih lama, barang sebentar, tiga puluh menit saja, tapi saya hanya punya dua belas menit. Saya ingin makan sebanyak-banyaknya perut saya mampu. Kalau saja korupsi waktu memungkinan juga saya lakukan. Tapi apa daya, Pimred saya betul-betul menunggu. Dengan waktu yang tak lebih dari dua belas menit itu—sebab ia meminta saya merasakan sebagian kecil miskin ekstrem pada pukul satu siang—yang bisa saya lakukan hanyalah dua: mengkhayal makan nasi bebek dan menganggap waktu berjalan dengan cepat. Tidak bisa banyak-banyak.

Tak banyak juga yang saya lakukan setelahnya, hanya bangkit dari tempat duduk, memberikan sisa-sisa pecahan uang di saku celana. Keluar dari ruangan dan berjalan ke arah dapur, membuka salah satu rak berisi belasan gelas. Saya pilih satu, tentu saja untuk apa juga kalau dua atau lebih. Cangkir plastik yang transparan, kemudian saya isi air secukupnya, lalu beralih ke ruang tamu dan duduk di salah satu kursi dengan posisi menyilangkan kaki. Tiba-tiba saya ingin bersandar dan hanya sanggup memandang pintu kantor, tak pasti apa yang sebetulnya saya lihat. Orang-orang keluar dan masuk dari sana, segelas air masih utuh, saya meninggalkannya di meja dan beralih ke ruang kerja.

Khayalan nasi bebek yang paling saya inginkan, yang biasa jadi perayaan untuk setiap hari pembayaran upah kerja, rasanya saat itu malah sulit dibayangkan. Pikiran saya selalu beralih, bagaimana jika satu jam setelah ini lapar saya kian menjadi-jadi, bagaimana jika dua jam setelah makan saya ingin es krim, atau ingin ini dan itu. Bagaimana, bagaimana, mungkinkah saya harus berbohong, sedang jumlah uang tetap tidak bertambah.

Belum lagi segala hal yang turut mengiringi peran saya, rekan-rekan kerja saya, selain memberikan ejekan, mereka juga melarang saya untuk meminta-minta. Sial, saya membatin. Semisal ingin merokok, saya hanya boleh merokok apabila saya menggunakan uang tadi, atau seseorang berbaik hati memberi secara cuma-cuma. Garis besarnya saya tak boleh meminta ini itu baik pada sesama rekanan maupun atasan. Ruang seperti ini mungkin hanya sedikit bagian dari apa yang terjadi dalam miskin ekstrem, entah, saya sebetulnya tak sanggup menahan. Bahkan mengucapkan kata pun rasanya tak mungkin. Untuk apa juga saya menentang hal-hal begitu, saya lapar dan butuh makan.

Setelah rapat singkat di ruang kerja, saya masih boleh menggunakan beberapa fasilitas untuk keperluan bekerja, misalnya kamera dan mengakses komputer. Sebab memang dalam waktu dekat itu saya perlu pergi ke suatu tempat. Tapi fasiltas keduanya ini juga dibatasi, hanya digunakan untuk bekerja, tidak ada musik, tidak ada media sosial, tidak ada percakapan dengan orang lain. Tidak ada, hanya boleh memuat tampilan Microsoft Word dan File Explorer.

Mula-mula sebelum pergi ke lapangan saya ingin membeli dan merebus mi untuk menahan lapar. Tapi tiga ribu lima ratus rupiah itu rasanya masih terlalu berat. Padahal pada hari-hari yang lain, di meja ruang tamu kantor biasanya ada beragam kudapan. Kali itu nihil, hanya ada teko berisi air dan juga celengan sumbangan untuk masjid dekat kantor.

Sungguh, saya ingin terus mendengarkan lagu “Aku Lupa Aku Luka” saat waktu tiba mengharuskan untuk beralih ke suatu tempat. Padahal, tujuh hari dalam seminggu, tak semuanya diisi dengan lagu-lagi di telinga. Setelah saya tahu pasti beberapa hal telah dirampas, hal-hal lain yang tak pernah terbayangkan juga akhirnya ikut muncul dalam diri saya. Tiba-tiba saya menarik ikat pinggang sekencang-kencangnya dan menyanyikan penggalan lirik suatu lagu dari Dialog Dini Hari dengan fasih dan keras di jalan raya. Lagi-lagi, berharap itu bisa menipu diri saya sendiri.

/Sambutlah, indahnya hari esok/Syukuri cerita yang telah pergi

Masalah mulai timbul manakala saya berada di dekat eskavator yang tengah mengatasi longsor dan turap roboh di Kali Kalapa. Bising deru mesin dan benturan alat berat itu membuat saya berang. Matahari sedang terik-teriknya di langit. Kegiatan di lokasi normaslisasi ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan saya membeli Pop Ice rasa taro.

Warung penjual Pop Ice di hadapan saya ini memancing dahaga sekali. Agak sulit menuliskan bagaimana perasaan saya waktu itu. Uang saya masih utuh, masih dengan jumlah yang sama. Seandainya lima ribu rupiah saya tukar dengan segelas Pop Ice dalam kondisi yang saya rasakan, saya masih merasa diuntungkan. Membayangkan haus saya hilang seketika adalah hal utama saat itu. Menariknya salah seorang rekan kerja saya tiba-tiba mengeluarkan sebotol Teh Pucuk, mungkin ukurannya tak lebih dari 400 mili liter. Ia juga memberi saya sebatang rokok. Saya minum beberapa teguk. Beruntung, saya pikir begitu.

Sedikitnya saya mungkin menghabiskan waktu tiga jam di sana, setelahnya saya pulang. Persoalan dengan Pop Ice ini ternyata belum berhenti juga. Mula-mula saya membayangkan bagaimana kalau saat itu saya membeli satu dan berbohong saja soal hal lain setelahnya. Kemudian saya berusaha berpikir terang, seandainya saya beli, sisa uang saya mungkin tak lebih dari delapan ribu. Sisa uangnya masih bisa digunakan untuk beli makan seadanya. Tapi bagaimana dengan besok, saya juga tidak tahu. Semuanya, saya kira layak-layak saja dipasrahkan kepada yang belum pasti. Sampai kapan dan sejauh apa, ini persoalan lain.

Dari sekian banyak pengandaian, satu hal yang tak mudah saya bayangkan ialah bagaimana jika keinginan membeli Pop Ice itu dirasakan oleh anak saya di suatu waktu. Sementara saya sebagai orangtua tak bisa berbuat banyak dengan uang dua belas ribu rupiah. Apakah saya masih boleh atau pantas menyalahkan nasib dan kenyataan, saya tak yakin bisa menemukan jawabannya. Rasanya tubuh saya, saat itu, seperti melubangi bagian dada saya sendiri. Kemudian suatu cairan serupa air mulai menyembul dan mengalir begitu deras, begitu ricik, dan begitu mengganggu diri saya dari dalam.

Sekalipun saya sanggup mengatakan “Besok ya” atau “Nunggu bapak punya uang ya”, sulit membayangkan apa yang akan dikatakan oleh sang anak setelahnya. Belum lagi bagaimana saya bisa membagikan uang tadi sedemikian adil dan membuat keluarga dapat bertahan.

Setibanya di kantor, badan saya lemas, pusing dan ingin muntah. Tak ada pilihan lain, saya harus makan. Dengan kondisi yang seadanya ini, saya berjalan kaki untuk membeli nasi. Mungkin sampai seribu hingga dua ribu langkah, sebab memang saya cari yang termurah dan irit bensin. Tujuh ribu rupiah, nasi dengan tempe dan sayur. Setelah perut saya kenyang pun perasaan pedih di hati masih terasa.

Sisa lima ribu, uang ini saya simpan betul-betul dengan hati-hati dan kewaspadaan. Waktu untuk hidup masih panjang, hampir tiga puluh enam jam. Karenanya untuk itu saya taruh baik-baik agar tak mudah sobek. Saya bahkan tidak menyimpannya di saku celana, tapi di dalam buku catatan.

Selepas menulis, dan merasa tenang karena lapar dapat teratasi sementara waktu, saya pulang. Sepanjang jalan pulang ini saya berdoa. Tak banyak, bensin saya dikuatkan sampai tujuan. Mestinya tak terhitung jauh, hanya dari daerah Unsika sampai ke Pasar Baru Karawang. Bukan kebetulan, rumah saya memang sekitar pasar. Nah sisa uang ini menemani saya sepanjang malam saat mendorong motor yang habis bensin dari daerah Taruno sampai ke rumah.

Saya betul-betul ingin marah. Seumur hidup saya tak pernah merasa tidak berdaya seperti itu. Satu-satunya yang menolong saya kali itu adalah pengalaman patah hati. Menerima kenyataan mulai dari persoalan yang tak juga dimengerti serperti takdir hingga cinta sudah lebih dari cukup. Saya terus mendorong motor, suka atau tidak, tak mungkin saya meninggalkan barang sebesar ini di tepi jalan. Kadang-kadang saya mencaci diri sendiri, kadang-kadang mengumpat pada pertamina, dan pertamini. Bahkan kepada orang-orang yang tak sengaja melintas pada jam satu malam.

Seandainya saya bisa beli bensin eceran lima ribu rupiah, Selasa pagi itu mungkin tubuh saya tak akan merasa begitu kesakitan. Beruntung, lagi-lagi ini, entah, mungkin juga jangan-jangan ini hal biasa. Rekan di rumah saya mau mengantar saya berangkat bekerja dengan sepeda motor. Kalau saja saya harus berjalan kaki, mungkin saya sudah menangis di sepanjang jalan. Sebab kaki saya tengah luka, bahkan untuk membeli plester pun saya pikir panjang.

Uang itu sisa dua ribu lima ratus rupiah. Saya belikan rokok sebatang, teh gelas, dan plester untuk di kaki. Bagian yang terakhir ini membuat saya merasa seperti anak kecil. Seolah luka di kaki ini adalah hal yang besar dan perlu ditangani serius. Sementara orang seperti saya ini rasanya cukup sulit membayangkan diri ini menjadi latah terhadap kondisi tubuh. Lebih lagi ini rasanya sepele.

Baik teh gelas maupun sebatang rokok, saya tak merasa rugi. Sebab jauh hari ke belakang, dua hal itu nyaris selalu turut mengawali hari. Kadang-kadang, ah saya jadi ingat momen-momen mendengarkan lagu. Saya suka dengan Sheila Majid, baik “Dia” maupun “Sinaran” sulit seandainya harus memilih satu untuk lagu yang paling saya sukai. Sebetulnya tidak ada suatu perasaan yang berhubungan dengan lirik-lirik di dua lagu tersebut. Tiap kali mendengarnya, entah, batang leher dan pinggul saya terasa cukup pantas untuk bergoyang.

Terlalu panjang kalau saya kisahkan semuanya. Hari Selasa berakhir lebih ringan daripada Senin. Saya saat itu belajar mengatur waktu untuk buang air kecil dan besar. Agak terdengar lain sih, memang, mungkin ini cuma trik saya saja. Sebab saat itu rasanya kalau-kalau saya sanggup menahan kencing dan berak, perut seolah-olah terasa masih penuh. Tentu saja membohongi diri seperti ini tak bertahan lama. Paling tidak, kiat-kiat seperti itu bisa menunda sampai setengah hari.

Sebutlah saya berhasil mengendalikan rasa lapar saya sendiri, meski tidak sepenunya. Tiba-tiba saya merasa punya semacam motivasi untuk diri saya sendiri lho. Kira-kira begini, “Keadaan yang memaksa seseorang menahan berak agar tetap merasa kenyang adalah berkah lain dari Tuhan.”.

Kalau saja kamu membaca tulisan ini dalam keadaan lapar dan kebetulan memiliki gesper untuk ikat pinggang. Sederhana, kamu hanya perlu menarik gespermu sampai perutmu terasa kenyang. Tarik dan tekan terus, jangan beri ampun perutmu merengek. Satu-satunya efek samping yang akan kamu terima hanyalah lecet-lecet saja di permukaan kulit perut. Seandainya tak punya gesper pun kamu masih bisa berjonggok sepanjang hari. Tak begitu banyak risikonya, mungkin hanya pegal dan kesemutan.

Setengah hari lainnya saya hanya bisa berpasrah diri. Sebab cuma itu rasanya yang bisa saya lakukan. Tentu teman-teman saya tidak sejahat yang kamu kira. Meski saya juga ingin memakinya lebih dari seribu kali. Mereka, setidaknya kadang masih memberi saya sesuatu. Misalnya dua pisang goreng yang jatuh dari tempat dan tidak dimakan oleh mereka. Sisa Teh Botol Sosro orang bukan persoalan besar, atau saya disuruh-suruh untuk membuka maupun menutup jendela. Atau disuruh membersihkan ini itu untuk sebatang rokok.

Agak berat memang membayangkan lingkungan saya jadi begini, tempat bekerja sekaligus juga tempat belajar ini menciptakan ruang yang kurang menyenangkan untuk saya mengolah batin. Tapi apapun itu, memang jelas saya terlalu jauh untuk bisa merasakan apa yang masyarakat miskin ekstrem di Karawang terima. Jauh sekali. Pengalaman-pengalaman yang tidak seberapa ini mungkin juga masih kurang untuk disebut sebagai bagian kecil dari apa yang nasib dan kenyataan beri pada mereka.

Sungguhpun jika tulisan ini sepanjang sepuluh atau dua puluh halaman tentang keseharian saya dengan uang dua belas ribu, masih tidak ada apa-apanya. Sisa dua ribu lima ratus itu masih bertahan sampai hari Rabu, meski begitu, masalah selalu tetap ada. Luka di kaki saya bengkak, dua hari ini badan saya sakit-sakit, pangkal paha kiri saya nyeri, kepala meriang, dan tak ada lagi sedikipun hasrat ingin beli dan memakan nasi bebek. (Riski Andika)

*

Selama satu hari setengah, saya minta Ian bertahan hidup dengan uang 12 ribu rupiah. Ia dilarang minta makan, rokok, bensin ke atasan atau orang lain. semua fasilitas kantor dibatasi. Hanya Microsoft Office yang boleh dibuka di komputer. Ponsel disita. Berikut ini catatan singkat Ian. Di luar sana, barangkali hanya beberapa kilometer dari tempat kita tinggal, ada banyak sekali orang yang bertahan hidup dengan pendapatan di bawah 11 ribu rupiah per hari. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), di Karawang jumlahnya mencapai 106 ribu jiwa. (catatan pemimpin redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here