Lelaki Miskin di Karawang yang Enggan Menjual Rumah Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya

0
1195
Halaman belakang rumah Ndin. Hampir rebah dimakan waktu.

Kata orang, rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Tempat kamu (ditunggu) pulang. Namun Green Day menyangkal itu. Dalam nomor Jesus of Suburbia yang berdurasi sembilan menit, pada bagian dua dari total lima bagian, Billy—vokalis band ini—berteriak lantang: The motto was just a lie, it says home is where your heart is. But what a shame, ‘cause everyone’s heart doesn’t beat the same. It’s beating out of time.

Bila Ndin Saepudin tidak menekuni olahraga voli, ia mungkin akan meraih gitar, memainkan dua tiga chord, lalu memilih jalan sunyi sebagai anak punk sebagai bukti kesetiaannya dengan Green day. Sayangnya, Ndin memilih jalan lain, yang sama sunyinya. Ia tidak mengenali Green Day.

Bagi lelaki berusia 27 tahun dengan flek di paru-paru seperti Ndin, memilih jalan sebagai atlet voli adalah pilihan tidak masuk akal. Ndin lebih mungkin diterima subkultur punk, puisi dan dunia fiksi. Nama-nama beken seperti Chairil Anwar, Aan Mansyur, dan Muhidin M. Dahlan mengidap penyakit yang menjauhkan mereka dari aktivitas fisik, seperti olahraga voli, misalnya. Chairil Anwar, nama yang disebutkan pertama, amat mirip dengan Ndin. Selain usianya sepantaran, keduanya sama-sama mengidap penyakit paru-paru, sama-sama menganggur, sama-sama miskin, sama-sama bandel. Chairil main perempuan dan pergi ke pelacuran, Ndin melinting tembakau. Bedanya—kalau boleh disebut perbedaan—Chairil hidup sebagai bohemian, Ndin masih punya “rumah”.

Kata rumah sengaja kami beri tanda kutip, karena sulit menyebut “rumah” milik Ndin sebagai rumah, menggunakan definisi apa pun.

Rumah adalah tempat hatimu berada, tempat kamu (ditunggu) pulang. Hati Ndin tidak di mana-mana, ia juga tidak ditunggu siapa-siapa. Ia yatim piatu. Bapaknya meninggal saat usianya 1,5 tahun. Waktu ia kelas 5 SD, ibunya menyusul ayahnya. Semua saudaranya sudah kawin, beranak, dan berbahagia. Sedang Ndin masih begini-begini saja. Ndin memang pernah tinggal bersama neneknya. Setelah sang nenek kehilangan kemampuan mengingat, Ndin ditinggal sendiri.

Rumah adalah bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Tempat Ndin tinggal nyaris sulit disebut sebagai bangunan, apalagi rumah yang melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Sebagian besar terbuat dari bilik, sebagian kecil kayu, panjangnya lima kali rentangan tangan orang dewasa, lebarnya tiga kali. Atap berlubang di banyak titik, membuat siapa saja yang rebahan di bawahnya, bisa beradu pandang dengan langit.

Rumah itu berdiri di Desa Cadaskertajaya, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang. Letaknya strategis di pinggir jalan besar. Ada alasan kenapa Ndin bertahan di rumah itu, alasan yang sama bisa kita pakai untuk mendefinisikan ulang kata rumah, setidaknya rumah bagi Ndin.

Ndin bertahan karena satu-satunya ingatan yang tersisa dari kedua orangtuanya hanya tanah beserta bangunan lapuk di atasnya. Hanya rumah beserta seluruh kenangan di dalamnya.

Sosok bapak dan ibu di kepala Ndin buram belaka. Bapaknya meninggal saat Ndin belum mengenal angka dan huruf. Ibunya meninggal saat Ndin belum mengenal cinta dan terluka olehnya. Menjual, meninggalkan rumah berarti menghapus seluruh ingatan samar itu.

Sudah, kamu tinggal di rumah aku saja, rumah ini dijual,” kata saudaranya suatu hari kepada Ndin. Waktu itu saudaranya sedang berkunjung ke rumah.

Tidak ah. Ini peninggalan orangtua. Mau bagaimana pun keadaannya, ini peninggalan satu-satunya dari orangtua, segalanya yang berhubungan dengan orangtua tuh memori,” balas Ndin.

Ndin.

Tinggal Sendiri, Ndin Tidak Pernah Mendapat Bantuan

Ramainya kemiskinan ekstrem di Karawang memang bukan data Badan Pusat Statistik (BPS) belaka. Fenomena kemiskinan benar dan jelas terjadi di masyarakat, rumah tidak layak huni, sakit-sakitan hingga tidak memiliki penghasilan menjadi momok bagi persoalan kemiskinan.

Seperti yang terjadi di Desa Cadaskertajaya, Kecamatan Telagasari. Ndin Saepudin 27 tahun harus merasakan serba kekurangan, bahkan ia harus tinggal sendiri di rumah yang tidak layak huni. Selain itu, ia juga sedang sakit dan harus berobat jalan, sehingga sampai saat ini ia konsumsi obat tiap harinya.

Sekarang kan lagi sakit, fisik juga jadi menurun,” ujar Ndin ketika diwawancarai tim redaksi.

Bagian dalam rumah Ndin.

Rumahnya sudah tidak berdiri kokoh, beberapa tiang penyangganya sudah keropos karena tidak pernah mendapatkan perawatan. Selain itu, Ndin juga mengatakan bahwa ketika setiap hujan turun, rumahnya selalu bocor karena genteng yang sudah retak-retak. Ditambah dinding rumah dari bilik membuat air hujan bisa dengan mudahnya masuk ke dalam.

Ini sudah dibenerin, cuma tidak banyak modal saja,” ujar Ndin sambil tertawa. Menertawai dirinya, menertawai kemiskinannya.

Kini Ndin hanya bisa menggunakan satu ruangan sebagai tempat berlindung di rumahnya. Ruangan yang dulunya digunakan sebagai ruang keluarga kini Ndin pakai juga untuk memasak, tidur, bahkan sesekali ia sulap menerima tamu. Sebab ruangan lain sudah tidak bisa ia gunakan akibat kerusakan yang cukup parah dan khawatir genteng jatuh.

Dari luar kita disuguhi pandangan rumah yang sudah tidak layak huni. Ketika kita berada di halaman rumah, akan ada banyak sekali debu yang menempel pada permukaan kulit. Selain itu, di sela-sela atap rumah banyak sarang laba-laba seperti tidak dibersihkan.

Sudut lain rumah Ndin.

Ketika malam, Ndin selalu merasa kedinginan, sehingga ia harus memakai dua jaket dan celana olahraga. Selain itu, banyaknya nyamuk mengganggu waktu istirahatnya. Ia harus menggunakan obat penangkal nyamuk agar tidak digigit.

Kalau malam tuh dingin, nyamuk juga banyak,” ujarnya.

Ndin mengaku selama ini ia tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Selama ini hajat hidupnya ia upayakan dengan usaha sendiri dan bantuan dari tetangga dan saudaranya. Bahkan ketika pemerintah daerah memberikan bantuan pada awal pandemi, ia tidak pernah mendapatkan apapun.

Pernah satu waktu, ketua Rumah Tangga (RT) membagikan masker untuk memberikan bantuan kala pandemi. Namun rumahnya dilewat, meski ketika itu ia sedang duduk di teras yang berarti ada di rumah. Hal itu membuatnya heran, dan bertanya-tanya kenapa ia tidak mendapatkan bantuan.

Biasanya sih RT, waktu itu pembagian masker aja kelewat, padahal RT lewat sebelah rumah,” Keluh Ndin pada redaksi Kopi Pagi ketika bertemu di kediamannya.

Menurutnya dulu ia pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah desa, namun atas nama neneknya. Bantuan yang didapat oleh neneknya hanya berupa beras saja, itu juga baru satu kali ia dapatkan. Sampai saat ini ia tidak pernah mendapatkan bantuan lagi.

Sementara ketika menurut Anang, selaku RT setempat bahwa Ndin masuk dalam Kartu Keluarga (KK) neneknya, sehingga bantuannya atas namanya neneknya. Selain itu, neneknya pun mendapatkan Bantuna Pangan Non Tunai (BPNT) yang isinya beras, telur, ayam bahkan hingga buah-buahan. Namun, keadaan di lapangannya tidak begitu, sehingga membuat bingung Anang.

Tidak tahu deh, padahal kan dia sendiri yang ngambil,” ujarnya.

Bagian lain rumah Ndin.

Ia mengatakan bahwa memang bantuan desa itu diberikan setiap bulan. Namun memang untuk bulan ini belum ada bantuan desa, sehingga memang beberapa warga belum bisa menerima bantuan.

Namun untuk menanggapi keadaan Ndin, Anang akan memasukan namanya pada daftar bantuan desa. Sehingga nanti setiap bulannya Ndin bisa mendapatkan bantuan dari desa.

Kasian juga, ia lagi sakit,” katanya.

Sementara, di lain kesempatan kami coba menghubungi kepala desa setempat, Nurki. Menurutnya tidak mungkin warga Desa Cadaskertajaya tidak mendapatkan bantuan. Sebab, arahannya terkait bantuan ini, semua warga harus bisa merasakan. Dengan cara giliran pada setiap bulannya, sehingga warga semua mendapatkan bantuan.

Tidak mungkin kalau ada warga yang tidak dapat, mungkin belum,” sanggah Nurki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here