Kopi sebagai media komunikasi rakyat

0
135
Segelas kopi pagi menikmati hari-hari kita

Fakta sejarah mengenai kelas antagonis telah dibahas dari zaman Romawi hingga zaman modern. Padahal, dari sejumlah antagonisme, di dunia modern hanya ada dua golongan antagonisme, yakni borjuasi dan proletariat.

Eksistensi kelas-kelas ini dipelihara oleh borjuasi modern, sehingga berkembang untuk menciptakan ‘kelas-kelas’ yang semakin jelas. Faktanya, istilah kelas hanya populer di Inggris dan Eropa Barat selama revolusi industri. Gagasan kelas ini digunakan oleh sejarawan dunia untuk mempelajari evolusi di belahan bumi Eropa modern.

Namun, kelas yang dimaksud oleh Ekonom dan Filsuf seperti Marx dan Engels adalah kelas dalam pengertian sosial. Kelas sosial semakin menciptakan jembatan antara si miskin dan si kaya. Lebih tepatnya, golongan yang dimaksud oleh kedua tokoh tersebut mengacu pada hubungan ekonomi, yaitu tentang pekerjaan dan penghasilan seseorang.

Kita sudah tahu bahwa hubungan ekonomi sangat erat kaitannya dengan masalah komoditas. Komoditas adalah akar dari masalah produksi. Karena menurut Marx dalam Das Capital, kemakmuran suatu masyarakat ditentukan oleh corak produksi kapitalis. Cara produksi kapitalis ini sebenarnya sangat berpengaruh pada masalah ekonomi lain seperti sewa, tenaga kerja, nilai lebih, keuntungan dan harga produksi.

Harry Cleaver, yang juga mempelajari pemikiran Karl Marx tentang komoditas, memberikan jawaban mengapa Marx memulai studinya dengan subjek komoditas. Harry menjawab, karena bagi Marx komoditas adalah modal yang paling dasar. Inilah mengapa, jelas Marx, kemakmuran borjuasi memanifestasikan dirinya dalam bentuk komoditas.

Artinya, hal mendasar bagi modal adalah bagaimana menghasilkan keuntungan berlipat, dan bukan membangun hubungan dengan pihak lain dan pasar. Jadi, gaya kapitalis dalam proses produksi yang digunakan untuk menjembatani keuntungan ini. Bagaimana suatu komoditas ditampilkan dengan intervensi faktor lain, seperti nilai alat produksi, nilai energi, nilai suasana, dan nilai kemudahan yang ditawarkan.

Saya pikir, mungkin inilah yang membuat nilai secangkir kopi akan berbeda harganya jika dijual di kafe modern dari sekedar kedai kopi biasa di pinggir jalan.

Hal ini menyebabkan kopi yang diyakini sebagai ruang rakyat akan berubah menjadi hegemoni saat memasuki ruang kaca. Yakni ruangan dengan tampilan yang mewah dan diolah dengan cara yang tidak biasa bagi saya serta menggunakan alat produksi berupa mesin yang mahal.

Beberapa waktu yang lalu, teman saya mengundang saya untuk minum kopi di sebuah kafe di kota tempat saya tinggal. Saya mengecek menunya, dan saya tidak menemukan nomor-nomor yang bersahabat kecuali hanya satu menu yaitu ampas kopi alias kopi hitam biasa.

Karena saya tidak minum kopi hitam (karena alasan medis), saya memesan Latte Original. Jujur saja, saya belum pernah minum kopi dengan nama-nama aneh itu.

Bukannya saya tidak mampu membelinya, tapi bagi saya sayang jika puluhan hingga puluhan ribu yang saya hasilkan dari bekerja seharian hanya untuk membayar secangkir kopi. Dan ternyata saya paham, bukan kopinya yang mahal, tapi ‘ruang’ yang ditawarkan yang membuat segelas kopi mahal.

Inilah mengapa harga kopi yang saya beli sangat tidak biasa bagi saya. Mengingat saya tinggal di kota kecil, yang ternyata semakin banyak kedai kopi dan kafe yang menawarkan tempat-tempat mewah. Sehingga berpengaruh pada nilai jual secangkir kopi.

Masalah ruang telah mengintervensi nilai komoditas kopi. Karena nilai kopi akan berubah seiring dengan ruang penjualannya. Modal menggunakan ruang ini, karena mereka pasti akan mengubah semua yang disukai publik. Dan tentu saja itu akan mengubahnya menjadi barang yang lebih berharga.

Tindakan modal akan diterima jika berjalan sesuai dengan proporsi yang wajar. Namun harus diingat, modal akan tampak berbahaya ketika komoditas berganti kemasan dan menciptakan ‘kelas’. Akan terlihat lebih mengerikan jika kopi sebagai komoditas dan barang konsumsi masyarakat akan dimasukkan ke dalam ‘prestise’.

Kopi yang saya yakini sebagai ruang diskusi ternyata melahirkan apa yang disebut Karl Marx sebagai kelas sosial. Padahal kata pepatah, “di depan kopi semuanya sama”. Namun kopi yang menjadi mitra diskusi akan membuat masyarakat (baca: proletariat) tidak fokus pada diskusi, melainkan sibuk memikirkan bagaimana cara membayar kopi yang dipesannya.

Kopi, dan mungkin komoditas lainnya, pada awalnya hanya merupakan bahan produksi bernilai rendah yang mengalami kenaikan kelas. Selain kopi, banyak juga komoditas yang memanfaatkan ruang untuk dipromosikan, seperti segelas kopi yang menjadi mahal saat dijual di Starbuck.

Misalnya, ubi kayu yang tumbuh di dataran pegunungan yang landai dengan harga yang sangat murah disulap menjadi barang konsumsi yang siap dihargai dengan prestise. Sego thiwul, yang sangat murah untuk dibeli di desa saya, menjadi lebih mahal jika dijual di restoran mewah kelas atas. Selain itu, gethuk yang dijual di pasar tradisional seharga dua ribu rupiah akan melonjak menjadi puluhan ribu rupiah jika diletakkan di jendela kaca kelas atas.

Jadi, sebenarnya komoditas ini masih merupakan barang rustic (Murah) yang menjadi mahal jika dikemas dan ditempatkan di ruang kaca kedap suara. Sedangkan kelas sosial tercipta karena prestise.

Sementara itu, prestise adalah hal yang paling laris dijual oleh kapitalisme. Kata rekan diskusi saya, kapitalisme tidak pernah benar-benar menjual esensi sebuah komoditas.

Padahal esensi kopi, bagi orang awam seperti saya, adalah perekat untuk menemani sekelompok orang yang ingin menikmati waktu, dimana waktu itu sengaja dihabiskan.

Akan sangat disayangkan bagi saya, dan mungkin orang yang menyukai saya, uang yang diperoleh dari keringat sehari, hanya untuk membayar secangkir kopi di kafe ibukota. Pernyataan ini tidak boleh dijawab dengan asumsi “Maka tidak perlu kopi.”

Bukan budaya kopi yang saya kritik. Saya tahu kalau kegiatan ngopi bisa disebut ibadah oleh sebagian orang, karena dari inspirasi forum itulah lahir ide-ide hebat.

Namun, keberadaan kopi telah berganti alat sebagai wadah prestise bagi masyarakat yang belum mengetahui esensi dari kopi itu sendiri. Ada dua hal yang perlu diketahui tentang kopi, kopi untuk dinikmati atau kopi untuk acara prestise.

Gengsi inilah yang membuat budaya ngopi menjadi kelas-kelas. Ada istilah kopi kelas atas alias borjuis, juga kelas bawah alias proletariat. Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya semuanya bisa dikapitalisasi. Salah satu cara yang efektif untuk dikapitalisasi adalah dengan sikap konsumtif masyarakat.

Bagi pecinta kopi, mungkin hal seperti itu bukan masalah besar. Tapi menurut saya, kopi kehilangan semangatnya saat melahirkan kelas sosial. Kopi yang diyakini sebagai barang konsumsi yang populer, telah kehilangan identitasnya, karena secara jelas menunjukkan keberpihakannya pada modal. Kopi telah menciptakan stratifikasi sosial di antara kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here