Kerikil Kecil di Sepatu

0
125

Undang-Undang Dasar 1945 menjamin kelangsungan hidup setiap orang di Indonesia. Kita berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Undang-Undang yang sama juga menjamin hak kita untuk hidup sejahtera lahir dan batin, berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang layak dalam hubungan kerja.

Demi memenuhi semua hak itu, kita menyerahkan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk dikuasai negara. Dan dipergunakan untuk kemakmuran kita.

Tapi di negeri yang mendasarkan segala sesuatu pada hitung-hitungan dan transaksi, selalu ada harga yang harus dibayar. Tidak ada makan siang gratis apalagi di Indonesia.

Kita membayar segenggam kehidupan layak dengan berton-ton pasir gunung, menukar kenyamanan sejenak dengan pepohonan hutan, kita memasuki lapangan kerja dengan tenaga dan waktu yang siap dijual berapa saja.

Undang-Undang memang menjamin fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, dan oleh karena itu, harga yang dibayar lebih besar. Dipelihara negara sama artinya dengan kita makan, minum, dan tidur seperti hewan ternak. Diberi makan secukupnya, disembelih kapan saja.

Hebatnya, kita tidak pernah punya alasan menyerah. Di tengah pandemi ini, misalnya, saat suhu tubuh makin tinggi, penghasilan makin rendah. Saat negara benar-benar menerapkan jarak sosial (social distancing) terhadap rakyatnya. Saat pemilik kebijakan jaga jarak dengan penerima kebijakan. Kita bertahan. Kita bertahan bukan karena kuat, tapi karena tidak tahu cara lain keluar dari kemalangan.

Kehadiran kami di Kopipagi.id sejak awal tidak diniatkan buat melakukan hal-hal besar. Hal-hal besar seperti keadilan, misalnya, adalah selaput tipis di langit yang makin menjauh tiap kali dikejar. Kami ingin membumi sebagaimana secangkir kopi pagi di meja warung kopi, di teras depan rumah, di ruang-ruang sempit.

Kalau bisa, kami ingin jadi kerikil-kerikil kecil dalam sepatu penguasa. Kecil, kecil sekali. Kau bisa ganti kata “penguasa” dengan apa saja yang menurutmu besar dan berkuasa, kami tetap berada di dalam sana.

Sebagai kerikil, kami bisa disingkirkan kapan saja. Saat itu terjadi, kami tahu telah memihak kebenaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here