Cikoleangkak Birdwatching Trek, Tempat Pengamatan Burung Migran Ada di Sanggabuana

0
261

Tim Sanggabuana Wildlife Expedition dan tim Ranger dari Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) bersama peneliti dari Yayasan Kiara (Konservasi Ekosistem Alam Nusantara), Hery Sudarno menemukan tiga koloni burung migran dengan jumlah lima puluh tujuh individu terbang di area pengamatan Cikoleangkak Birdwatching Trek di kawasan hutan pegunungan Sanggabuana pada 9 September 2021 lalu.

Hery Sudarno mengatakan bahwa ada dua spesies burung migran yang mampir ke Sanggabuana, Alap-alap China atau China Sparrowhawk (Accipter Soloensis), dan Elang Alap Nipon (Acipter Gularis). Ia tak menduga kegiatannya di Sanggbuana yang semula untuk melihat aktivitas primata justru menemukan suatu hal yang mengejutkan dan menarik, spot atau tempat pengamatan burung migran baru. 

“Ini mengejutkan dan merupakan tempat baru untuk pengamatan burung migran. Biasanya kita melakukan pengamatan di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Ternyata ada juga di Sanggabuana,” jelas peneliti primata yang datang ke Sanggabuana bersama Sanggabuana Wildlife Expedition dan tim Ranger dari Sanggabuana Conservation Foundation.

Menurut Leader Team dari Sanggabuana Wildlife Expedition, Bernard T. Wahyu Wiryanta, Alap-alap China adalah burung pemangsa dengan panjang tubuh sekitar 25 hingga 35 sentimeter. Burung migran ini biasanya berlanglang buana manakala tempat asalnya tengah musim dingin. Tak hanya ke Indonesia, burung ini juga melakukan migrasi hingga ke Philipina, dan Papua Nugini. 

Sementara Elang Alap Nipon ialah raptor pemangsa burung kecil dari keluarga Acciptridae yang bermigrasi dari Jepang, Asia Tenggara atau Kepulauan Sunda Besar. Dua raptor ini umumnya bermigrasi ke Indonesia pada bulan September hingga Oktober sebelum kembali ke negari asalnya.

Mula-mula kemunculan burung migrasi ini dimulai dari datangnya empat burung Alap-alap Nipon sekitar pukul 16:00 sore hari. Kemudian muncul kembali flock atau kawanan yang cukup besar berjumlah dua puluh ekor Alap-alap China. 

Pemantauan selesai sekitar pada pukul 16:30, tercatat dari keseluruhan terdapat empat puluh tiga burung raptor alias burung pemangsa yang melintas. Menurut Hery, “Kalau saja kegiatan pengamatan dilakukan sejak pagi hari, jumlah burung migran yang datang akan terpantau hingga ratusan.”

Esok harinya, 10 September 2021 lalu, pemantauan kembali dilakukan, sejak pagi dapat terlihat jelas dari jalur pengamatan burung Cikolengkak, terdapat sebanyak seratus dua burung kembali melintas di Sanggabuana.

Guide atau pemandu Cikolengkak Birdwatching Trek dari SCF, Uce Sukendar, menyebutkan bahwa di jalur pengamatan burung ini terdapat sekitar lima puluh jenis burung, baik dari burung kicauan hingga pemangsa. Maskot dari lokasi pantauan burung ini ialah Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi). Selain itu, menurut tuturannya, bisa juga ditemui tiga jenis primate, Owa Jawa, Surili, dan Lutung Jawa. 

Ia juga menambahkan, “Tapi kalau burung migran sebanyak ini saya baru tahu. Ini juga dikasih tahu sama rekan-rekan Kiara yang datang hari ini ke hutan bareng kita,” terang Uce yang juga akrab disapa Kang Bujil. 

Cikoleangkak Birdwatching Trek ini ialah jalur wisata terbatas yang belakangan ini ramai diperbincangkan publik setelah tim dari Sanggabuana Wildlife Expedition dan Dedi Mulyadi, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI merilis hasil temuan Macan Tutul Jawa yang berhasil direkam dari kamera trap. 

Direktur Eksekutif Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Solihin “Inong” Fuadi, mengatakan bahwa hal tersebut ialah kabar baik bagi dunia konservasi Sanggabuana kepada Tim KopiPagi saat ditemui di Puncak Sempur. 

“Kita sedang mengajukan perubahan status kawasan Sanggabuana menjadi Taman Nasional, dan kunjungan burung migran dari China dan Jepang ini, sangat menarik dan penting. Para burung migran ini bisa menjadi indikator ekosistem di Sanggabuana terbilang bagus, dan ini harus ada kebijakan pelestarian serta perlindungan di Sanggabuana,” kata Inong. 

Masih Inong jelaskan, jalur pengamatan burung Cikolengkak ini selanjutnya akan lebih difokuskan untuk kawasan wisata terbatas, misalnya seperti kawasan wisata edukasi berbasis konservasi. Salah satu hal yang memiliki daya tarik dari lokasi ini ialah aneka warna dan daya eksotis dari lima puluh jenis burung. Belum lagi ditambah dengan riuhnya kicau burung dan juga salam hangat nyanyian dari primata yang bergelantungan untuk menghibur pengunjung. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here